



Dan kini, sekian poeloeh tahoen kemoedian, tiba-tiba saja menemoekan kembali sosok Pak Tino, dalam seboeah boekoe. Kali pertama melihat boekoe itoe di boersa boekoe bekas Aloen-aloen Oetara Solo, ingatan saja sontak menjeret saja pada seloeroeh kenangan saja akan sosok ini. Itoelah kenapa dalam sekedjap saja lantas djoega berpikir; saja tak boleh melewatkan begitoe sadja boekoe ini...
Dalam boekoe setebal 63 halaman ini Pak Tino mengadjarkan kepada pembatjanja bagaimana menggambar orang; moelai dari boelatan-boelatan, memboeat kepala, memboeat gambar seorang anak, memboeat gambar bergerak, hingga memboeat gambar perempoean dan laki-laki.
No comments:
Post a Comment